Google
 

KePePeT iTu LuAr BiAsa EnErgYnya



Hihi..lucu juga dengan pemikiran ini, karena semua orang pernah mengalami, yang disebut keadaan kepepet dan tentunya kalau disadari pasti keadaannya akan berbeda dengan saat kita tidak merasa sedang kepepet. Hingga, bisa diibaratkan, saat kondisi kepepet karena lapar pun, seekor kucing bakalan memakan sekeranjang rumput.

Kadang, tanpa kita sadari. Kita hidup dalam garis ketidakpastian. Orang bijak mengatakan hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Karena itu, jangan heran. Jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dulunya kaya raya, kini menghilang entah ke mana. Pun, jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dua tahun lalu biasa-biasa saja, kini berubah menjadi orang yang berhasil dalam usaha. Kadang, kita juga melihat orang yang sangat sukses jadi pengusaha, justru berawal dari keterdesakan ekonomi, sebagaimana kisah di atas.

Memang, jika kita mau melihat sekitar kita, kejadian seperti itu tak jarang terjadi. Karena kepepet, karena keterdesakan ekonomi, karena keterpaksaan, orang justru menemukan hal baru yang "menyelamatkan" dirinya dari keterpurukan. Kalau istilah saya, "The power of kepepet" alias kekuatan yang muncul karena keterdesakan kondisi. Bagaimana bisa?

Begini. Kadang, saat akan memulai usaha, ada satu hal yang sering jadi ketakutan banyak orang, yakni kegagalan. Gagal kadang jadi momok yang menakutkan semua orang. Kita takut dicap jadi orang gagal. Orang gagal adalah orang kalah. Hal itulah yang membuat kita selalu mencoba menghindari kegagalan. Kalau bisa, jangan sampai gagal. Begitu juga yang muncul di benak banyak orang jika hendak memulai usaha. Siapa sih yang mau rugi kalau buka usaha? Kita juga akan selalu berusaha menghindari yang namanya kesusahan. Itu adalah fitrah manusia.

Tapi, yang terjadi sudah pasti tidak akan selalu mulus sebagaimana dambaan setiap orang. Ini yang harus disadari tiap orang. Coba, kalau dulu waktu belajar berjalan kita selalu takut jatuh. Barangkali, sampai sekarang kita tidak bisa berjalan. Atau, waktu masa kecil dulu ketika belajar naik sepeda. Berapa kali kita harus terjatuh dan luka agar bisa naik sepeda? Jadi, kita pasti melalui proses belajar dari jatuh, luka, dan gagal itu.

Kalau dianalogikan dengan jatuhnya seseorang ke dalam jurang, mungkin ia akan tersangkut beberapa kali, sampai akhirnya benar-benar jatuh ke dasar jurang. Nah, kalau sudah sampai ke dasar, yang benar-benar dasarnya jurang, apa pilihan dia? Satu-satunya pilihan adalah naik bukan? Sebab, tidak mungkin lagi kita akan jatuh ke tempat yang lebih dalam karena itulah dasarnya jurang. Begitu juga dengan kegagalan. Kalau gagal terus, suatu saat kita akan sampai ke "jatah" gagal kita yang terakhir. Kalau sudah begitu, pilihan kita hanya satu, naik alias bersiap menuju sukses.

Itulah yang saya istilahkan "The power of kepepet". Yah, begitu juga dalam menjalankan usaha. Jika kita terbiasa menghadapi kegagalan, kita justru akan terbiasa pula melihat peluang lain yang kadang tak kita lihat saat sedang dalam kondisi normal. Tentu, kita tidak ingin untuk menemukan ide cemerlang hanya jika dalam kondisi kepepet. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana selalu bisa memunculkan potensi – seperti saat kepepet – setiap saat, meski tidak dalam kondisi terdesak.

Baca Artikel Yang Lain



Anonymous said...

ada satu hal 'kepepet' yang sangat tidak bisa dipikirkan terlalu lama utk mencari solusinya, yaitu kepepet...pengen ke belakang!

Ani said...

Namanya juga kepepet, tak ada rotan akarpun jadi.

lovely said...

Hihi..ntar kalo kucingnya maem rumput yang punya maem apa dong :) btw SEO gw sukses Brur, coba pake keyword "kisah SEO", pasti yang muncul blog gw hehehe, tetep semangat taklukan dunia minimal dunia maya :)p

Dzofar said...

aku iki notabene lagi stress, tapi mergo moco iki, berangsur2 stress teratasi..

thankz berat!!

Anonymous said...

Iyaa setujuuu, emang luar biasa energinya, gw aja kemarin 'kepepet' Angkot jatoh ampe terguling-guling, hebat dah...hehe